Selepas "La La Land"
Saya baru saja selesai menonton La La Land di Netflix, film sepanjang dua jam yang dirilis pada 2016. Meski tahu dari dulu ada film ini dengan judulnya yang unik, saya tidak menonton juga saat film ini ada di bioskop. Saya baru menontonnya sekarang-sekarang ini sesimpel karena mendengar soundtrack-nya terlebih dahulu. Salah satu lagu yang ngena buat saya yaitu "Planetarium", lagu ini entah kenapa berseliweran di Instagram, dan ya saya senang dengan tipe-tipe lagu seperti itu.
Ini memang bukan pertama rasanya saya menonton tayangan karena soundtrack-nya terlebih dahulu. Meski mungkin tidak selalu tepat, film atau drama atau seri dengan lagu tema atau lagu latar yang baik bisa jadi cerminan filmnya juga bagus. Lagu tema yang bisa menceritakan atau menggambarkan suasana film berarti memang digarap begitu serius. Sebagai contoh, film-film animasi Studio Ghibli menggunakan lagu tema atau latar yang memang menggambarkan bagaimana film tersebut, sebut saja film-film yang disutradarai Hayao Miyazaki dengan Joe Hisaishi sebagai komposer lagu-lagunya. "Merry-Go-Round of Life" dari Howl's Moving Castle, "One Summer Day" dari Spirited Away adalah dua dari banyaknya lagu di film animasi Studio Ghibli yang bisa menggambarkan suasana film. Contoh lain adalah komposer Hans Zimmer yang terlibat di film Interstellar garapan Christopher Nolan, ada suasana mencekam tapi juga megah, tegang, yang menggambarkan perjalanan Cooper di misi luar angkasanya.
Saat mendengar lagu-lagu dari La La Land, itu juga yang saya yakini bisa tergambarkan, terlebih ketika mengetahui ini adalah film musikal. Sebagaimana film atau teater musikal lainnya, tentu terdapat lagu-lagu yang menjadi dialog atau percakapan antar tokoh, elemen yang juga terdapat di film ini.
Lalu bagaimana dengan filmnya? Saya tidak akan mengulas atau menceritakan detail, secara singkat saya menyukainya. Saya menyukai jalan cerita yang bagi saya realistis. Seorang pianis dan seorang pemeran yang masing-masing ingin mengejar mimpi mereka lalu bertubrukan takdir. Awal mula ini terkesan seperti cerita romansa orang-orang medioker, bertemu beberapa kali sebelum merasa cocok satu sama lain. Tidak hanya merasa cocok, namun saling membantu mimpi masing-masing.
Agar tidak terdengar klise dengan mengatakan "The Power of Love", tapi terkadang atau memang diperlukan dukungan orang lain untuk mewujudkan impian. Dukungan moril, pikiran, ide, usaha, atau bahkan dana, kita memang tidak bisa benar-benar hidup tanpa orang lain. Maka begitu pula Mia dan Sebastian. Mia Dolan mengejar mimpi sebagai aktris top, sementara Sebastian bermimpi memilliki kelab Jazz sendiri. Meraih mimpi bukan perkara mudah, dan memang secara realistis akan menemui berbagai macam kesulitan, kegagalan, pertentangan atau keadaan ingin menyerah dan berputus asa. Tapi, lagi-lagi dukungan orang lain yang bisa cukup membantu membalikkan "roda nasib".
Perjalanan hidup tidak tertebak, Mia dan Seb memilih untuk mengejar mimpinya masing-masing meski mengorbankan hubungan mereka. Orang bilang seseorang bisa hadir di hidup kita, dengan perannya masing-masing, bisa sebentar bisa lama, bisa sebagai bagian supporting system atau malah sebaliknya. Apapun itu, siapapun orang yang hadir di hidup kita, seolah ada tugasnya masing-masing, begitu pula kita di kehidupan orang-orang sekitar. Lalu, hidup pun pilihan, mana hal yang ingin kita coba, mana yang ingin dijadikan prioritas.
Maka akhir cerita La La Land bukanlah sebuah sad ending, melainkan akhir yang realistis. Hidup tidak bisa selalu dilihat dari satu sisi, dari sisi impian yang terwujud, maka ini happy ending, meski sebaliknya jika dikaitkan dengan hubungan Mia dan Seb. Ada pilihan "andai begini" atau "andai begitu", tapi bagaimana bila "andai begini dan begitu" itu terjadi, tapi malah impiannya yang tidak terwujud. Jadinya kita hari ini adalah akumulasi pilihan-pilihan yang dipilih, atau respon atas apa-apa yang mendatangi kita.
Lalu seperti kebiasaan saya selepas menonton film, drama atau seri, selanjutnya mendengarkan soundtrack lainnya atau detail di balik tayangan tersebut. Demikian.