Dunia Maya Kuadrat

"Sosial media itu dunia maya kuadrat," begitu Mbah Jiwo (Sudjiwo Tejo) berujar, "karena kehidupan di dunia ini pun sudah dunia maya. Dunia (kehidupan) sesungguhnya itu nanti setelah kita terbangun dari kematian." Kutipan ini nyantol di pikiran saya beberapa waktu terakhir, meski bukan pertama kali mendengar ujaran serupa dari beliau, namun yang sekarang ini nyantol menancap terus. Sekurang-kurangnya ada dua hal yang bisa dibicarakan: sosial media yang begitu maya dan artifisial; hidup sesungguhnya adalah nanti selepas bangun dari kematian.


Kemayaan sosial media yang menciptakan keartifisialannya ini sudah barang tentu mudah dipahami, meski begitu tetap saja kadang kita terjebak di dalamnya. Gagal paham besar kalau memahami apa yang tampil di sosial media adalah kenyataan senyata-nyatanya di dunia nyata (yang juga masih maya menurut kutipan tadi). Ini bukan tentang semacam artifisialnya tampilan rupa yang tampil di sosial media lalu berwujud berbeda dengan di dunia nyata, namun tentang apa yang hendak ditampilkan.


Sadar atau tidak sadar, kita memilih apa yang hendak ditampilkan di etalase sosial media kita, apapun sosial media itu. Ada yang memilih mengekspresikan se-ekpresif-ekspresifnya apa yang dirasakan, bisa kesedihan, kebahagiaan, kemurungan, kesenangan, kemarahan, atau lainnya. Ada yang memilih untuk menonjolkan satu-dua atau sebagian sisi dirinya sebagai citra diri. Ada pula yang cukup melimitasi apa yang ditampilkan, juga ada yang tak hendak menunjukkan apa-apa selain untuk melihat-lihat apa yang nampak di sana.


Memahami dan menyadari pilihan-pilihan ini mestinya bisa membuat kita lebih awas akan apa yang ditampilkan orang-orang lain di sosial medianya. Contoh sederhana, memahami bahwa orang cenderung menampilkan hal-hal yang bahagia dan tak menampilkan sisi-sisi kepedihannya bisa membuat kita tidak merasa iri atau rendah saat melihatnya, karena sebagaimana kita, orang lain pun masing-masing memiliki sisi bahagia dan sisi kesedihannya masing-masing, dan sebagaimana kita, orang lain pun bisa memilih untuk hanya menunjukkan sisi bahagia dibanding sisi kesedihan.


Pun dengan memahami pilihan-pilihan itu, kita bisa memilih secara sadar apa yang hendak ditampilkan, dan apa yang kita tidak berkenan untuk ditampilkan atau diketahui orang lain. Misalnya, di salah satu akun sosial media, saya menampilkan diri sebagai seorang pelari dengan seringnnya membagikan cerita seputar lari. Tentu ada juga hal lain yang ditampilkan atau dibatasi atau tidak ditampilkan sama sekali. Saya tidak menampilkan atau membatasi tentang keluarga saya di sosial media, karena berulang kali saya berpikir "untuk apa juga orang tahu tentang hal ini? orang-orang cukup tahu kalau saya begini dan begitu."

Saat kamu menyadari bahwa serpihan-serpihan informasi yang dibagikan di sosial media atau apapun yang bertebaran di internet bisa dihimpun dan menunjukkan siapa kamu, maka di situ bisa jadi kamu akan membatasi apa yang perlu dan tidak perlu kamu tampilkan.


Sosial media itu dunia maya kuadrat, maka tak perlu serius-serius amat dan perlu sekali kita bedakan dengan dunia nyata (yang juga maya). Apa yang ditampilkan di dunia maya kuadrat itu bisa jauh berbeda dengan yang kamu temui di dunia nyata, meski kadang lucu juga kala kita mengetahui kabar orang lain bukan dari bertanya atau mengobrol, tapi dari apa yang dibagikan di sosial medianya.

Bekerja dari rumah selama hampir tiga tahun lebih-lebih lagi menyadarkan saya soal itu, saya bisa mengetahui kabar seseorang bekerja di mana, tinggal di mana, justru dari sosial media. Lucu tapi juga ironis kala menanyakan kabar secara langsung terasa tidak biasa dibanding mengetahui kabar lewat apa yang dibagikan.


Rasanya masih banyak yang bisa kita bicarakan mengenai dunia maya kuadrat ini, tapi tentu untuk saat ini perlu dibatasi, pun tentang apa yang akan dibicarakan mengenai "hidup sesungguhnya adalah nanti selepas bangun dari kematian". Mari kita bicarakan lain waktu, karena sekarang saya begitu lapar..


(Ini adalah juga tulisan lepas selepas-lepasnya.)

No comments: