Bukan Salah Pak Adam dan Istrinya

Tidak jarang saya baca atau dengar -baik guyonan atau bukan- andaikan Adam dan istrinya tidak berbuat dosa dengan melanggar larangan Allah, yakni dengan memakan buah dari pohon yang terlarang untuk didekati, maka kita masih tinggal di Surga dengan aneka kenikmatan dan kelezatannya. Andai begitu, maka tidak perlu kita susah-susah di dunia, menghadapi berbagai persoalan, kesakitan, hal-hal pahit, dan lain sebagainya. Ya barangkali pemikiran begini timbul salah satunya akibat kefrustrasian menghadapi cobaan, ujian, atau barangkali hukuman atas kesilapan. Tapi kembali ke kalimat awal, benarkah bila Adam dan istrinya tidak melanggar larangan tersebut maka kita masih tinggal di Surga?

Oh tentu saja tidak, jawaban agak nyelenehnya sih ya kali Tuhan bikin bumi tapi hanya diisi oleh binatang, tumbuhan, gunung-gunung, dan lainnya? Nggak rame dong. Sementara jawaban seriusnya, ya Tuhan sudah menakdirkan bahwa manusia memang mesti turun ke dunia, cepat atau lambat dari tempat sebelumnya ia berada di Surga. 

Lalu ada pertanyaan lanjutan, untuk apa Tuhan menurunkan manusia ke dunia? Apa maksud Tuhan? Serta berbagai pertanyaan-pertanyaan turunan lainnya yang bisa panjang. Tentu saja tidak ada satupun kesia-siaan yang diciptakan-Nya, termasuk manusia dan mengapa ia mesti turun ke dunia. Tuhan menjelaskan lewat firman-Nya bahwa Dia hendak menciptakan manusia yang akan menjadi khalifah di bumi. Hal ini lantas "diprotes" oleh para malaikat bahwa makhluk ini berpotensi berbuat kerusakan dan pertumpahan darah di bumi yang lantas "ditutup" dengan firman-Nya, 

قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Muncul lagi pertanyaan lain, apa itu khalifah? Kenapa malaikat bisa berkata demikian mengenai potensi berbuat kerusakan dan pertumpahan darah? 

Belum lagi saat ayat selanjutnya menerangkan bahwa manusia yang diciptakan yang bernama Adam ini lantas diajarkan nama-nama seluruhnya. Ada pertanyaan lagi, nama-nama apa yang dimaksud? Benda-benda? Benda apa? Dan seterusnya.


***

M. Quraish Shihab, dalam bukunya yang berjudul Khilafah, menerangkan -dengan mengutip pendapat para ulama- beberapa pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan khalifah. Makna pertama yang dapat dipilih, "...khalifah mengandung arti bahwa ia datang di belakang atau sesudah makhluk sebelumnya," jika ini yang diambil, maka pertanyaannya adalah makhluk apa yang digantikan? Bisa jadi itu adalah makhluk lain -misalnya jin atau makhluk lainnya- yang berbuat kerusakan di bumi. Pendapat lain menyebutkan bahwa khalifah adalah anak-keturunan Adam yang silih berganti hidup di bumi, saling menggantikan, ini karena kata khalifah bisa menjadi subjek juga bisa menjadi objek. Bisa berfungsi menggantikan ataupun digantikan. Pendapat lain menyebutkan bahwa Allah menetapkan khalifah bagi-Nya yang Dia beri tugas untuk mengelola dan menegakkan hukum-Nya di bumi. Penugasan ini tidak bermakna bahwa Allah tidak mampu -tentu saja ini mustahil-, melainkan sebagai penghormatan dan ujian bagi manusia yang diciptakan-Nya. Manusia menjadi khalifah, yakni mandataris-Nya di muka bumi, bukan menggantikan-Nya karena tentu ini hal yang mustahil, melainkan apa-apa yang dikehendaki Allah menyangkut bumi. 

Penugasan ini disertai dengan kelengkapan fungsi dan potensi yang diberikan-Nya untuk manusia, dari Adam hingga menjelang kiamat nanti yang diisyaratkan bahwa Dia mengajarkan nama-nama seluruhnya. Potensi dan kelengkapan yang diberikan mencakup di antaranya panca indra, akal, dan hati yang tidak diberikan-Nya kepada para malaikat. Maka jelas bahwa memang semestinya potensi dan kelengkapan ini dipakai sesuai peruntukannya, yakni sebagai sarana untuk menunaikan tugas manusia sebagai khalifah di bumi.


***

Ayat lain yang lantas menjadi rujukan terkait penciptaan manusia adalah ayat ke-56 di surat adz-Dzariyat. Ayat ini menerangkan bahwasanya Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah pada-Nya. Masih dalam buku yang sama, bahwa ibadah terdiri dari dua macam, yakni ibadah mahdhah (murni) yang telah ditetapkan oleh Allah bentuk, waktu, dan kadarnya seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Sementara macam lainnya adalah ibadah ghayru mahdhah (tidak murni), "...yakni segala aktivitas lahir dan batin manusia yang dimaksudkan yang mencakup semua kegiatan fisik dan jiwa yang dilakukan demi karena Allah, baik kegiatan itu berbentuk lahir maupun batin."

Ibadah-ibadah yang dimaksud ini tidak bertentangan atau bertolak belakang dengan tujuan penciptaan manusia sebagai khalifah yang memakmurkan bumi. Kedua macam ibadah tersebut juga tidak saling bertentangan dan sama-sama menunjang fungsi manusia sebagai khalifah (selengkapnya sila rujuk buku Khilafah karya Quraish Shihab).


***

Kembali ke pembahasan awal, maka jelas bukan salah Pak Adam dan istrinya sehingga manusia akhirnya turun ke bumi, karena memang sudah takdirnya manusia turun di bumi untuk menjadi khalifah dan dalam rangka ibadah kepada-Nya. 

Adapun Adam dan istrinya singgah sejenak di Surga, hikmahnya adalah agar surga yang sempat disinggahi itu menjadi gambaran untuk memakmurkan bumi. Agar bumi yang ditinggali menjadi tempat yang juga memberikan ketenangan serta membentuk keindahan juga agar ada kerinduan untuk kembali merasakan surga. Adapun bagi manusia selain Adam dan istrinya, gambaran tentang surga telah diberikan dalam firman-Nya dan apa yang disampaikan utusan-Nya.

Andaikan pun turunnya manusia ke bumi adalah akibat kesalahan Adam dan istrinya, ada sebuah kisah yang dituturkan dalam buku Kisah-kisah Fantastis dari Negeri 1001 Malam (Inea Bushnaq). Bahwasanya ada seorang lelaki yang atas kepayahan yang ia dapatkan di hidupnya, ia memprotes dan menyalahkan Adam dan istrinya. Lantas ia berada di sebuah tempat yang asing, yang berbeda namun indah dengan kelezatan dan kenikmatannya. Tetapi di tempat itu pula ia melihat hal yang tidak lazim dilakukan oleh seorang pria, ia memprotes hal tersebut, lalu pria itu menjawab, "Sudah berapa lama kamu tinggal di sini?" Dalam sekejap ia pun kembali ke tempatnya semula. Ia lantas memohon lagi untuk dikembalikan ke tempat yang indah tadi, namun sesampainya di sana, ia melakukan hal yang sama dan mengalami hal yang sama. Begitu seterusnya hingga tiga kali, ia lalu meminta kesempatan lagi untuk bisa kembali ke sana, tetapi dijawab malaikat bahwa ia tidak bisa kembali ke sana. Adam hanya sekali melakukan kesalahan, sementara ia diberi tiga kesempatan dan ia melakukan kesalahan di tiap kesempatannya.

Maka, bukan salah Pak Adam dan istrinya..

No comments:

Powered by Blogger.