Ramadhan wa Pandemi

Malam pertama Ramadhan, sebakda Tarawih.

Sampailah kita kini di naungan bulan Ramadhan. Saya selalu bersyukur saat diberi kesempatan berada di dalamnya. Saya seolah aman dan selamat saat berada di Ramadhan, meski tentu saja tak serta merta selamat jika ikhtiarnya bertolak belakang.

Ramadhan yang di luar keutamaan-keutamaan yang telah sering kita dengar, juga menyimpan cerita tersendiri, kenangan Ramadhan semenjak kecil yang selalu menjadi ingatan dan cerita bertahun-tahun kemudian. Ramadhan tahun ini dipastikan memberikan cerita lain: Ramadhan di tengah pandemi.

Jauh sebelum Ramadhan, biasanya berseliweran di media sosial ajakan melafazh doa untuk diberkahi pada rajab dan sya'ban dan agar disampaikan pada bulan Ramadhan. Meski masih terlihat namun "kalah" dengan pemberitaan pandemi. Beberapa pekan sebelum Ramadhan, ada yang mencoba menggaungkan harapan agar pandemi bisa teratasi sebelum Ramadhan tiba. Namun, harapan tak terwujud, pandemi masih berlangsung, bahkan bisa jadi tiada Shalat Id sebagaimana biasanya.

Allah, Allah..
Ia beri makhluk yang begitu kecil ini saja manusia kelimpungan. 

Allah, Allah..
Ramadhan tahun ini faktanya terasa berbeda semenjak malam pertamanya, namun pemaknaan akan fakta ini yang akan membedakan respon masing-masing kita. Ingatan saya muncul tentang para Dai yang menyampaikan bahwa puasa adalah ibadah yang sangat privat antara manusia dengan Allah. Shalat atau tidaknya seseorang dapat terlihat, begitu pula zakat tidaknya seseorang, pun dengan hajinya. Namun, puasa begitu privat, seseorang bisa mengaku berpuasa, bisa berpura-pura, maka hanya ia dan Tuhannya yang tahu yang sebenarnya. Puasa begitu privat.

Kondisi pandemi akan memberikan pemaknaan berbeda pada Ramadhan termasuk pada kebiasaannya. Bila biasanya kita Shalat Tarawih berjamaah di masjid -dengan kekhasan di banyak tempat: awal-awal Ramadhan ramai namun berkurang dari hari ke hari-, kini dengan kondisi tak ada shalat berjamaah di masjid, masihkah kita dirikan Tarawih? Bila sebahagian kita meningkatkan intensitas membaca Alquran dengan mengikuti kelompok-kelompok tadarus, nanti akankah kita masih membaca Alquran serajin seperti Ramadhan sebelumnya? Akan ada begitu banyak perbedaan, ibadah Ramadhan akan lebih privat lagi.

Ramadhan bertemu pandemi semestinya menjadi ruang perenungan bagi kita. Semarak Ramadhan barangkali terlalu materiil selama ini. Maka saat pandemi tiba, menjadi perenungan agar semaraknya tak melulu materiil, fisik, namun rohani, jiwa, pemaknaan di masing-masing individu. Selayaknya, dengan berbagai keutamaan Ramadhan dan kondisi pandemi ada doa-doa yang khusus dipanjatkan, ada bacaan Quran yang dikhususkan, sebagai permohonan semoga Dia berkenan mengembalikan kondisi seperti sebelumnya sehingga hari-hari Ramadhan kita seperti sebelumnya namun dengan pemaknaan yang berbeda.


Marhaban
Marhaban
Marhaban
Marhaban ya Ramadhan.



Bandung, 23 April 2020

No comments:

Powered by Blogger.