Tetes





Konon, dunia ini hanya tetes, maka bila mendapatkannya, janganlah berbangga, karena hanya tetes. Pun bila tak mendapatkannya, janganlah bersedih, karena hanya tetes.

Tapi, yangini bisa menjelma seolah samudera luas, seperti tak bertepi. Dikejar, mencoba dihimpun tak keruan, menyelam hingga tenggelam dalam, lalu tak kembali ke permukaan.
Padahal, ia hanya tetes.

Takut. Takut tak dapat, maka dikejar, setelah dapat, takut kehilangan.
Padahal, ia hanya tetes.

Tetes.
Masing-masing dari kita menghadapi tetes yang serupa namun tak selalu sama.

Berjalanlah dengan sabar dan syukur dalam menghadapi tetes, andaikan keduanya adalah kendaraan, maka -seperti Umar bin Khaththab- tak perlu khawatir menaiki yang mana.

Tetes.
Dan kita pun bermula dari setetes.

No comments:

Powered by Blogger.