Pamer Kebodohan, Ketidaktahuan, Keterbatasan

Meskipun berkali-kali saya bilang pada diri sendiri bahwa apa yang saya lakukan dengan sedikit-sedikit menulis di sosial media adalah bentuk cara bercerita, namun semakin ke sini, dipikir-pikir kok tidak sekadar bercerita, melainkan ada sesuatu hal lain. Saya meyakinkan diri bahwa bercerita melalui tulisan adalah cara agar kepala saya "tidak meledak", kata "menulis" terlalu berat bagi saya, maka saya lebih senang dengan "bercerita melalui tulisan." Cerita mengenai buku yang dibaca, mengenai peristiwa, tempat, atau hal lain yang ingin saya ceritakan melalui tulisan.

Terkhusus saat menceritakan buku yang saya baca, rasa-rasanya saya tidak hanya bercerita mengenai sebagian isinya, atau reaksi, impresi saya terhadap buku, namun ada hal lain yang saya sadari. Apa yang saya lakukan malah lebih tepat disebut sebagai "memamerkan kebodohan, memperlihatkan keterbatasan." Bagaimana tidak? Lha hampir setiap saya selesai membaca sebuah buku, saya ceritakan sebagian isinya atau kesan saya terhadap buku tersebut, lha berarti sekaligus memperlihatkan bahwa itulah buku yang dibaca, bahwa hanya segitu pengetahuan saya yang begitu terbatas, semua terbuka -meski tentu saja saya tidak yakin betul ada orang yang peduli atau memperhatikan. 

Maka betul-betul saya memamerkan kebodohan dan keterbatasan, karena hanya itulah yang saya baca, itu pula pengetahuan saya yang terbatas, hitungan jari buku yang saya baca dalam beberapa bulan, atau hanya belasan saja dalam setahun. Saat saya menggali lebih dalam malah terbersit bahwa sedikit-banyak buku yang dibaca, kesemuanya hanyalah bahan, bukan prestasi. Ia hanya akan menjadi prestasi ketika buku-buku yang dibaca itu menghasilkan semangat berbagi manfaat dan kebaikan untuk orang lain. Buku adalah input, membacanya adalah proses, sementara perubahan dan apa yang terjadi padamu selanjutnya adalah output, hasil. 

Lantas saya berkata, "Oh wahai dirimu yang berkata menyenangi buku, apa yang kau hasilkan dari buku dan setelah membacanya?"
Saya terdiam.

Pikiran saya lantas mengajak berlari, melihat mereka yang saya kenal sedang sibuk dengan output berupa kebaikan dan kebermanfaatan bagi sesama. Mereka tak pernah atau hanya sesekali bercerita mengenai buku yang dibaca atau hal apa yang memengaruhi mereka, namun dampak kebaikan yang dihasilkan begitu luar biasa. Membuat komunitas ini-itu, atau lembaga swadaya masyarakat yang sudah memberi dampak, atau hal-hal yang mereka bagikan yang kemudian menginspirasi orang lain.
Saya tertunduk.

Saya sibuk dengan bahan-bahan, dengan proses-proses tanpa tahu akan ada hasil apa, akan ada kebermanfaatan apa. Saya tergopoh-gopoh, terseok-seok mencari bahan, sementara yang lain berlari, memacu laju kebaikan yang disebarkan.
Saya malu.

Saya merasa seolah telah memberikan sesuatu yang bermanfaat meski kecil, namun sebaliknya, pertunjukkan keterbatasan sedang saya mainkan, kebodohan sedang saya pamerkan, ketidaktahuan sedang saya perlihatkan. Saya lantas menghibur diri sendiri dengan berkata bahwa setidaknya ada manfaat bagi diri sendiri, ya, setidaknya ada perubahan dalam cara berpikir, bersikap, atau tak begitu reaktif dengan apa yang sedang terjadi. Lalu apa? Tak ada lagi.

Pikiran saya kembali meloncat mengingat kata-kata, "Kini sudah bukan zamannya to-be, tapi to-do." Kini bukan kurunnya "kamu siapa?", namun "apa yang sudah kamu lakukan?". Orang tak peduli-peduli amat siapa dirimu, namun apa yang telah kamu lakukan. Saat pertanyaan ini saya tujukan pada diri sendiri, maka jawabannya terang, "(ternyata) tak ada."

Saya ketakutan, takut apakah saya termasuk pada "mereka yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa mereka tidak tahu lalu sok tahu," ini adalah kebodohan kuadrat atau mungkin pangkat tiga atau pangkat empat, saya khawatir termasuk ke dalamnya. Saya sebisa mungkin bersembunyi meski kemudian saya sadari betul tiada pula yang mencari, rupanya saya ge-er, meski kemudian saya bersyukur sedalam-dalamnya.


Namun aneh memang, saya terus saja melanjutkan pamer kebodohan, ketidaktahuan, dan keterbatasan dengan dalih bercerita melalui tulisan, dengan alasan untuk kebutuhan sendiri agar tak merasa pecah kepala.
Semoga Allah ampuni saya dan ada kebaikan yang bisa diambil dari pamer-pamer itu.

No comments:

Powered by Blogger.