Tentang "Sang Pangeran dan Janissary Terakhir"



Ada rasa canggung ketika membaca novel ini di lembar awal. Sebabnya adalah Mas Salim biasanya menulis buku yang.. bukan novel, terlebih ada beberapa bagian yang sering didengar di kajiannya.

Tapi perlahan rasa canggung hilang ketika masuk ke dalam kisah yang dituturkan dengan apik, teliti, presisi. Beliau memang piawai dalam memadukan kisah dan hikmah. Penyampaian yang segar membantu untuk memahami kisah, seperti di kajian atau membaca buku-bukunya. Tapi bagaimana dengan novel?

Rupanya beliau piawai pula. Tokoh-tokoh di novel terasa hidup karena kuatnya penggambaran karakter baik dari dialog maupun narasi. Kharisma Sang Pangeran tergambar, pun amarahnya. Begitu pula abdi setianya: Banteng Wareng dan Joyo Suroto yang setia dan jenaka, ataupun Basah Katib alias Salim Pasha. Ia bekas juru tulis Alemdar Mustafa Pasha (Wazir Agung Turki Utsmani) pergi ke Tanah Jawa bersama Nurkandam dan Nuryasmin, anak Sang Wazir, ditemani Orhan dan Murad. Inilah "Janissary Terakhir".

Protagonis lain seperti Raden Basah Gondokusumo, Mertonegoro, Pangeran Mangkubumi, Pangeran Ngabehi diceritakan dengan apik, juga tokoh antagonis seperti Joyosentiko alias Danurejo IV pun digambarkan dengan kuat. Pemantik Perang Jawa yang ditemani Tumenggung Wironegoro ini bertanggungjawab atas rusaknya moral di keraton kala itu. Belum lagi para pejabat pemerintah kolonial seperti Du Bus, De Kock, Cleerens serta Bosch.

Novel ini nampaknya dihasilkan dari penelitan panjang dan teliti. Peristiwa, tempat, tokoh, suasana diceritakan detail. Kita diajak ke berbagai kota dunia, dari Mesir, Makkah, hingga Istambul; dari Yogyakarta, Bagelen Barat, Magelang hingga Batavia; dari Istana Topkapi hingga Puri Tegalrejo dan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, juga berbagai bahasa: Indonesia, Arab, Inggris, Belanda, Jawa (Yogya) hingga Banyumasan.
Detail dan presisi, seolah diceritakan langsung.

Beberapa hal yang saya catat:
1. Pesan yang ditulis bahkan di awal: di antara bangsa-bangsa di dunia, barangkali bangsa di Nusantara inilah yang belum mendapat giliran sebagai pemimpin dalam kebangkitan peradaban Islam di dunia. Maka seyogyanya kita belajar dan menyiapkan diri jika begitulah kehendak-Nya.

2. Islam dan budaya tidak untuk dipertentangkan, malah bisa berjalan beriringan. Dakwah para wali di Nusantara pada abad ke-15 menjadi contoh.

3. Dalam membangun kembali rumah peradaban Islam, mereka yang membangun temboknya jangan menyalahkan pembangun pondasi. Begitu pula di bagian lainnya, semuanya mesti bersinergi dan fokus dalam bagian perjuangannya.

4. Meski teladan utama adalah perjuangan Rasul dan para sahabat, namun perjuangan para pahlawan di Nusantara ini pun dapat menjadi teladan, karena mereka adalah contoh terdekat dari segi budaya, daerah dan waktu. Inilah pentingnya menggali dan mempelajari riwayat para pahlawan.

Ada rasa haru, geram, kesal, marah, sedih, senang, tawa saat membacanya.
Terima kasih Mas Salim, semoga diberkahi serta menjadi amal jariyyah. Maktuuub!


***

#SemuaBacaSangPangeran
#SangPangeranDanJanissaryTerakhir

No comments:

Powered by Blogger.