"Wuenak Aja Ngasih!"

Dikisahkan ada seorang lelaki yang dikenal begitu dermawan, kalau ada yang butuh bantuan, ia bantu, ada panti asuhan, dia beri, ada masjid sedang butuh dana untuk pembangunan atau renovasi, dia keluarkan hartanya untuk ikut turun membantu. Pun ada berbagai hal yang perlu bantuan dana, ia dengan ringan mengeluarkan uangnya untuk didermakan.

Takjub akan hal ini, sekelompok pemuda lalu mendatanginya, "Pak, ajari kami dong, gimana caranya biar bisa nggak cinta cinta amat dengan harta kita, lalu bisa ngasih ke orang lain."

"Loh, kalian salah orang dek," ujar bapak ini.
"Loh salah gimana toh, Pak?"
"Lah iya, salah alamat, saya ini bukan nggak cinta harta, justru sebaliknya, saya ini sangat cinta harta saya."
"Maksudnya gimana itu, Pak? Kan kami suka liat Bapak ini suka ngasih ke orang, ngasih ke anak yatim, panti asuhan, masjid-masjid juga."
"Loh siapa bilang ngasih? Itu titip eee."
"Titip, Pak?" para pemuda ini saling melongo nggak paham.
"Iya, titip! Saya ini saking cintanya sama harta saya, sampai saya nggak mau pisah sama harta saya, makanya saya titip ke sini, saya titip ke sana, saya titip ke panti asuhan, saya titip ke anak yatim, saya titip ke masjid. Nah nanti saya tagih nanti di akhirat harta yang saya titipi itu."
"Oooooh gitu ya, Pak? Jadi titip?"
"Iya! Titip! Wuenak aja ngasih!"


***

Kisah yang disarikan dari cerita Ustadz Salim A. Fillah ini -meski secara redaksi berbeda, karena saya lupa detail nama dan beberapanya, tapi intinya begitu, dan ini dari kejadian nyata- sungguh bisa bikin terasa lebih ringan untuk bisa sedekah atau berinfak. Logikanya asyik, "nitip harta ke akhirat, nanti saya tagih!"

Jadi rupanya harta nggak dibawa mati, tapi bisa dititip sampai ke akhirat, tentu nanti bentuknya adalah balasan atas "titip-titip" harta tadi, yang hanya Allah yang tahu balasannya.

Denger cerita tadi kok saya malah kepikiran "titip-titip" harta ini kayak orang mau pindahan dari Jakarta ke Bandung, bawa barang banyak, kalo di mobil dia nggak bakalan cukup, akhirnya kadang ia titip ke saudaranya buat bawain, atau pake jasa pengiriman, nah nanti sampai Bandung dibawa lagi gitu.


***

Nah, yang agak mirip-mirip gini pernah saya baca di suatu buku, sayangnya lupa buku apa, buku siapa. Kisahnya begini (lagi-lagi saya nggak inget redaksi tepatnya seperti apa, tapi kurang lebih intinya saya inget):

Ada seorang pria yang dikenal suka bikin dosa, suka minum khamr (minuman yang memabukkan), suka main wanita, dan sebagainya, intinya banyak sekali dosa yang dilakukan. Namun, pada suatu waktu rupanya si pria ini sudah nggak minum khamr, tidak main wanita lagi dan sebagainya, ia sudah bertaubat. Karena banyak yang kaget dengan perubahan yang drastis itu, akhirnya banyak yang tanya pada pria ini, "Ajarin kami dong, gimana caranya bisa taubat seperti kamu."

"Saya ini justru senang sekali sama khamr, suka begini, begitu."

"Lah terus?"

"Hingga saya baca kalau yang nikmat di dunia ini ya hanya sebentar, yang abadi ya di akhirat nanti, di Surga."

"Jadi ya saya tahan untuk tidak menikmati yang sementara ini, untuk bisa menikmati yang abadi di surga. Saya harus bisa tahaaaan sebentar, untuk bisa nikmati kenikmatan yang abadi di surga nanti."

"Oooo gitu yaaa."


***


Ini menarik juga, menahan untuk menikmati yang sementara, yang semu, untuk meraih kenikmatan abadi di surga.

"Oh jadi beramal ngarepin surga? Emang boleh? Gak ikhlas dong?"

Loh kata siapa nggak boleh. Ada Ustadz (duh maaf lagi lagi lupa siapa namanya) yang ditanya demikian, terus dijawab kalau nggak salah dengan ayat ke 133 di surah Ali Imran,
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,"

Begitu.


***


Kalau ditarik lagi, dari dua kisah ini ada satu hal: keimanan akan adanya hari akhir dan balasan perbuatan meski hanya sebesar dzarrah. Dipikir-pikir balik lagi soal iman, lah iya, kalau kuat iman kita, betul iman kita, dipikir-pikir punya banyak harta itu kalau nggak disedekahkan, diinfakkan, dizakatkan ya untuk apa? Lah nggak bisa dibawa toh, makanya "titip" itu harta biar entar ketemu lagi.

Soal yang begini ini memang soal iman juga, banyak harta itu bisa bikin lama dihisabnya (dihitung, diaudit) di hari akhir nanti. Maka contoh sahabat Nabi.

Pernah waktu itu Umar bin Khaththab memberi harta pada Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, harta itu ia beri lewat budaknya Umar. Sepulang dari sana, budaknya ini lapor kalau saat Abu Ubaidah dapat harta dari Umar, langsung ia minta budak ini untuk bantu beliau bagiin harta ke orang orang yang perlu hingga habis semua. Mendengar hal itu, lega lah Umar, sungguh betul bahwa Abu Ubaidah ini adalah kepercayaan umat.
Nah begitu, yang begini tentu meringankan hisab, bisa lebih cepet gitu nanti.

Lagi-lagi memang soal iman, bisa jadi saat kita menahan harta kita ini, karena masih kurang iman kita, takut kurang, takut nggak bisa begini begitu, lah padahal rezeki sudah dijamin, kita hanya perlu sempurnakan ikhtiar, bisa bekerja, berdagang dan sebagainya. Begitu kira-kira.


Penutup:
Si Mbah Sujiwo Tejo pernah dibilang di salah satu acara televisi kalau pemikirannya itu unik. Lalu apa jawaban Mbah Tejo? Kurang lebih begini katanya,
"Loh kalian ini yang aneh. Uang ditabung segala, masih banyak itu yang perlu uang kalian, kasih itu ke yang membutuhkan."

Hingga ucapannya, "Menghina Tuhan itu bagi aku bukan dengan menginjak kitab suci, itu kecil. Tapi, kalau besok kamu khawatir bisa makan atau tidak, maka kamu sudah menghina Tuhan."


Yakin. Rezeki sudah diatur, jatahnya sudah ada, tinggal bagaimana kita menyempurnakan ikhtiarnya. Selamat menyempurnakan ikhtiar!

No comments: