Ikhlas Itu...

"Oh jadi beramal ngarepin surga? Emang boleh? Gak ikhlas dong?"

Loh kata siapa nggak boleh. Ada Ustadz (yang maaf saya lupa siapa namanya) yang ditanya demikian, terus dijawab kalau tidak salah dengan ayat ke-133 di surah Ali Imran,
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

"Ooh gitu. Eh eh, ikhlas itu apa sih?"

Ikhlas itu apa ya? Nama surat di Alquran ya? Kan kalo kata orang kita itu harus ikhlas seperti surat Al-Ikhlas yang nggak memuat kata "ikhlas" di dalamnya.

"Gitu ya?"

Ya itu kata orang. Kalo tentang ikhlas sih saya jadi inget Kata-katanya K.H. Athian Ali M. Dai. Beliau kalau lagi ngasih tausiyah, nasihat, terus bahas soal ikhlas beliau suka bilang kurang lebih begini:

"Ikhlas itu murni. Nah kalau ada susu murni, terus saya kasih kopi sakeclak (setetes), masih murni apa tidak? Tidak! Karena sudah tercampur kopi meski hanya setetes."

Meski hanya setetes dan terlihat enggak mengubah, tapi kan tetap saja ada sesuatu yang masuk ke sana, tercampur (meski tidak ngaruh-ngaruh amat), jadi nggak 100% murni.

Ya gitu juga ikhlas, murni, nggak boleh ada campuran lainnya.

Ikhlas itu kan ibarat air susu, air susu berada di antara kotoran dan darah (rujuk ke An-Nahl ayat 66), begitu pun dengan ikhlas. Ikhlas itu bisa jadi berada di antara syirik dan riya' (ingin dipuji, temannya namanya sum'ah). Fudhail bin 'Iyadh pernah bilang begini, "Meninggalkan amal karena manusia termasuk riya', dan melakukan amal karena manusia termasuk syirik."

Duh dahsyat kan, kadang mungkin kita pernah begitu, pengen ngasih eh "titip harta" ke orang lain tapi takut diliat orang, takut nggak ikhlas, takut riya', jadinya malah nggak jadi ngasih, nah itu udah riya'. Maka kalau mau beramal, beramal saja, terlepas ada orang apa enggak, toh belum tentu saat kita beramal orang juga memperhatikan.

"Tapi ya aku itu kalo suruh nyumbang memang  kadang suka berat kalo ngasih yang gede, takut nggak ikhlas. Kan katanya kalo ikhlas itu kita ringan berbuat, kalo berat ya nggak ikhlas."

Loh siapa bilang?
Mengutip kata-katanya Mas Ustadz Salim, jika ikhlas itu soal berat dan ringan, kalau gitu Nabi Ibrahim 'alaihissalam gimana?

"Maksudnya?"

Nabi Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih Ismail, putranya sendiri (tentu saja di akhirnya, posisi Nabi Ismail diganti oleh hewan ternak). Lah itu berat apa ringan? Ya berat! Kalau ringan, itu bukan nabi, itu pemutilasi!

Nah kan ada juga yang ringan keluarin harta banyak tapi ternyata pengin dipuji, itu ringan loh dia ngasih, tapi pengin dipuji, itu ikhlas apa nggak?

Jadi ikhlas nggak nyangkut ke berat apa ringan, beramal yo beramal saja, nggak usah mikirin diliat orang apa enggak. Ada amal yang kadang perlu dilihatkan sebagai syiar dan ngasih contoh ke orang lain, ada juga yang lebih baik tersembunyi, cukup dirimu dan Allah yang tahu.

Belajar ikhlas itu nggak mudah memang, kayak tokoh Fandy (Andre Taulany) di film dan serial "Kiamat Sudah Dekat", ia disyaratkan oleh Ustadz Romli (Deddy Mizwar) untuk mempelajari ilmu ikhlas biar bisa menikah dengan putrinya.

Ikhlas ini memang nggak mudah, tapi bisa dilakukan. Di era sosial media ini, yang potensi "melakukan sesuatu agar dilihat orang" ini semakin mudah, semakin besar, memang bikin kita harus lebih bijak, lebih hati-hati.

Padahal orang-orang ikhlas ini lah yang nggak bisa digoda oleh syaitan, sila rujuk Al-Hijr ayat 39-42.


"Ikhlas itu adalah putus harapan dari makhluk.
Semakin kita kuat berharap, dilihat, diketahui, dipuji, dihargai, dibalasbudi-i oleh makhluk, semakin jauh dari keikhlasan, dan cirinya adalah hati kita sangat tidak nyaman.
Tapi kalau kita benar-benar niatnya agar diterima Allah,
Orang tahu, orang tidak tahu, Allah pasti tahu.
Orang lihat, orang tidak lihat, sama saja.
Orang berterima kasih atau tidak berterima kasih, sama saja.
Allah pasti menyaksikan, Allah pasti membalas.
Tidak berkurang semangat berbuat kebaikan walaupun tidak dihargai, walaupun tidak dibalasbudi-i
Nikmatnya ikhlas adalah pada waktu amalnya itu terasa nikmat dan diterima oleh Allah subhanahu wata'ala"
-K.H. Abdullah Gymnastiar-

No comments:

Powered by Blogger.