Namaku Pram


Pram (Pramoedya Ananta Toer) lahir di Blora, 1925, menorehkan berbagai kisah sepanjang 81 tahun hidupnya. Sulung dari sembilan bersaudara, sempat beberapa kali tinggal kelas hingga akhirnya mesti diajari langsung oleh sang Ayah. Pram kecil seorang yang tak banyak bicara, karenanya ia lebih senang menulis. Ia akrab pula dengan rokok, menemani hari-harinya menulis.

Hidupnya warna-warni, sempat bekerja menjadi juru ketik, bergabung dengan TKR, bekerja di Balai Poestaka, dibui tanpa proses peradilan, diasingkan, menjadi tahanan rumah, menelurkan puluhan buku yang di antaranya diterjemahkan ke berbagai bahasa, hampir pula meraih Nobel di bidang sastra.

Ia menulis dalam berbagai kondisi, bahkan keterbatasan. Periode ia di pengasingan membuatnya sempat menulis di atas kertas semen, diberi mesin tik yang mesti ia betulkan sendiri saat di pengasingan. Pengasingannya di Pulau Buru melahirkan empat seri Tetralogi Buru, karya fenomenalnya. Tetralogi yang sempat diceritakan melalui lisan di barak-barak di Pulau Buru sebelum akhirnya ia tuliskan beberapa tahun kemudian. Zaman Orde Baru selain membuat ia diasingkan dan menjadi tahanan rumah, naskah-naskahnya pun sempat disita, dibakar, dimusnahkan. Andai tak dimusnahkan, barangkali banyak karya-karyanya yang bisa terus dinikmati.

Pameran "Namaku Pram" yang dipesembahkan @titimangsafoundation ini tak hanya menampilkan kronologis kehidupan Pram, juga Pram sebagai seorang ayah dan kakek yang begitu dekat bagi anak-cucunya.

Pameran terbagi ke beberapa bagian, bagian awal mengenai linimasa kehidupan Pram dan arsip-arsip, terdapat beberapa surat, tulisan-tulisannya, baik hasil ketik juga tulisan tangan. Bagian yang tidak diperkenankan untuk difoto ini membuat pengunjung rela berlama-lama membaca satu per satu tulisan atau linimasa kehidupan Pram.

Sementara itu, di bagian lain terdapat beberapa lukisan untuk Pram, buku-bukunya, ilustrasi ruang kerjanya, serta tentu saja taman kata-kata Pram yang tersebar di berbagai bukunya.

Pameran ini awalnya selesai pada 20 Mei yang lalu, namun diperpanjang hingga 3 Juni mendatang.

Pram terus hidup dengan karya-karyanya.


-----
Tulisan singkat ini dibuat selepas mengunjungi pameran mengenai Pramoedya Ananta Toer, di Dia.Lo.Gue, Kemang, Jakarta Selatan.

No comments:

Powered by Blogger.