H.O.S.

Bagi kita tidak ada Socialisme atau rupa-rupa isme lainnya yang lebih baik, lebih elok dan lebih mulia, melainkan Socialisme yang berdasar Islam.
Rumah H.O.S. Tjokroaminoto di Gang Peneleh VII, Surabaya.


Nama Hadji Oemar Said Tjokroaminoto sebetulnya bukan nama yang asing, karena namanya disebut di buku-buku sejarah semasa sekolah, bersama Hadji Samanhoedi dan tentu saja Sarekat Islam (SI). Tapi memang di buku-buku sejarah itu pula peran Tjokroaminoto beserta Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kemudian menjadi Sarekat Islam juga Central Sarekat Islam (CSI) tidak begitu ditonjolkan dan kalah pamor dengan Boedi Oetomo (BO).⁣
Padahal, peran SI jauh lebih besar dan kuat pengaruhnya serta jelas posisinya di hadapan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Mempunyai afdeling / cabang yang banyak serta anggota hingga jutaan orang. Pengaruh Tjokro dengan SI-nya begitu kuat hingga pemerintah kolonial menjulukinya "Raja Jawa Tanpa Mahkota".⁣
Tjokroaminoto rela meninggalkan pekerjaannya sebagai juru tulis yang mempunyai karir yang lebih jelas untuk mendarmakan dirinya demi perjuangan rakyat pribumi, keputusan yang didukung istrinya, Soeharsikin. Tjokroaminoto sezaman dengan Tirto Adhi Soerjo (TAS) yang menurut Tempo, TAS mempunyai pengaruh terhadap berdirinya SDI.⁣
Tjokro tinggal di rumah sederhana di Gang Peneleh VII, Surabaya. Di rumahnya inilah beberapa tokoh bangsa pernah tinggal sebagai anak kost, mereka belajar dari Tjokro serta berdiskusi dengannya. Tersebut nama Soekarno, Bung Besar yang diantarkan Tjokro saat masuk HBS. Soekarno pula sering meniru gaya pidato Tjokro di kamarnya.⁣
Nama lain yang sempat singgah di sana adalah Semaoen, Alimin, Musso, serta Kartosoewirjo. Menarik ketika seorang Tjokro mempunyai anak didik yang di kemudian hari memiliki cara pandang yang berbeda mengenai bangsa.⁣
Tjokro memang tidak banyak menulis, ia kuat dalam orasi, suaranya mampu didengar khalayak ramai tanpa perlu menggunakan pengeras suara. Buku "kitab"nya berjudul "Islam dan Sosialisme", yang mungkin bisa dirangkum sebagaimana ucapannya, "Bagi kita tidak ada Socialisme atau rupa-rupa isme lainnya yang lebih baik, lebih elok dan lebih mulia, melainkan Socialisme yang berdasar Islam."⁣
Tjokroaminoto pula memiliki trilogi yang mahsyur: "Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat."

No comments:

Powered by Blogger.