Beda

Entah sejak kapan kok seolah-olah banyak hal di kehidupan kita ini hanya ada hitam-putih. Kalau tidak A, ya berarti B. Kalau setuju A, otomatis menolak B. Seolah tidak ada C, D, E, F, dan seterusnya.

Setuju terhadap nilai-nilai Islam atau bahkan syariat Islam dibilang anti-Pancasila atau anti-kebhinekaan. Nasionalis dibilang tidak islami. Menghendaki 2019 presiden berganti, dibilang pendukung Prabowo. Mendukung Ridwan Kamil di Pilgub Jawa Barat, dibilang mendukung Pak Joko. Mendukung pasangan Asyik, dibilang otomatis mendukung Prabowo. Mengkritik Persib dibilang bobotoh nu riweuh, kurang bersyukur, dan sebagainya. Adem ayem saja terhadap keadaan Persib dibilang bobotoh santun. Mengatakan bahwa penalti bagi Real Madrid dan kartu merah bagi Gianluigi Buffon itu layak dibilang pendukung Real Madrid, kalau sebaliknya dibilang pendukung Barcelona, padahal yang maen Juventus.

Aih-aih sejak kapan seolah semua itu kalau tidak hitam ya putih, kalau tidak A berarti B, seolah tidak ada alternatif lain. 

Aih sejak kapan Islam dan Pancasila atau cinta tanah air malah dibentur-benturkan. Mohon izin untuk mengutip Emha Ainun Nadjib dalam Kiai Hologram, bahwa padahal ada "rakyat", "adil", "adab", "hikmah", "wakil", serta "musyawarah" dalam Pancasila. Mohon maaf karena keterbatasanku dalam mengingat dan memahami hal, aku hanya bisa uraikan sedikit saja, lengkapnya dirimu bisa membacanya. Rakyat, ia berasal dari ra'in, ra'iyah, kepemimpinan, hadis Nabi: kullukum ra'in wa kullukum mas'ulun 'an ra'iyyatihi (setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu bertanggungjawab atas kepemimpinanmu).

Hikmah? ud'u ila sabili robbika bil hikmah wal mau'idhotil hasanah wa jadilhum bil lati hiya ahsan, "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik" (Q.S. An-Nahl: 125). 

Bagaimana pula antara Islam dan negeri ini bisa dipertentangkan sementara terdapat "Atas berkat rahmat Allah" yang kata "Allah" sudah jelas maksudnya. Aih membingungkan. 

Bagaimana pula seolah alergi terhadap kata "syariat" padahal mengerti serta paham tentang kata "syariat" itu sendiri pun tidak? Ah memang, kita ini senang mengatakan berbagai istilah yang tak kita pahami betul maknanya, yang digunakan, disebut semaunya.

Ini ada pula yang menyebut kalau mendukung berganti presiden di tahun 2019 berarti mendukung Prabowo. Padahal bisa saja muncul nama lain, entah TGB atau purnawirawan TNI, atau nama lain. Lha loh siapa tau? Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi.

Mendukung pasangan calon tertentu di Pilgub Jawa Barat dibilang otomatis berpihak ke salah satu calon presiden. Lha loh bagaimana bisa?

Belum lagi ribut-ribut soal sepakbola Eropa atau dunia. Lah adakah hubungan secara historis, geografis, atau keturunan saat dirimu membela habis-habisan tim tertentu di sana? Aku masih paham kalau kau merasa memiliki ikatan emosional saat tim daerahmu bertanding di Liga Indonesia, namun aku tak habis pikir saat entah ikatan apa yang membuatmu begitu membabi buta mendukung serta membela tim tersebut? 


Ah, gegar pikiran kita barangkali. Entah sejak kapan seolah kebanyakan hal di sekitar kita ini hanyalah ada dua warna, hitam dan putih. Eh tapi memangnya hitam itu warna? Apa ia bukan keadaan di mana cahaya tak menyinari objeknya? Lalu apa pula cahaya itu? Ah mohon maaf pembicaraanku ngalor-ngidul begini. 

Aku hanya ingin katakan padamu, tak segala hal di dunia ini hanya A dan B, bisa jadi ada C, D, dan seterusnya.

No comments: